Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan
Senin, 03 Juli 2017
MEMBANGUN KOMUNIKASI POSITIF ORANG TUA DAN ANAK

MEMBANGUN KOMUNIKASI POSITIF ORANG TUA DAN ANAK


MEMBANGUN KOMUNIKASI POSITIF ORANG TUA dan ANAK


image19
Komunikasi yang baik sangat penting dalam hubungan antara orangtua dan anak. Karena melalui komunikasi orangtua dapat membangun hubungan yang menyenangkan dan positif. Dalam penelitian terkini juga menyebutkan bahwa anak yang tumbuh dengan komunikasi positif dengan orangtua cenderung memiliki kepribadian, daya tahan terhadap stress dan self esteem yang lebih baik dibandingkan dengan anak yang memiliki hubungan dan komunikasi yang buruk dengan orangtua.
Kemampuan komunikasi dibutuhkan dalam hubungan orangtua dan anak, dimulai dari sejak dini hingga dewasa. Komunikasi yang baik adalah kunci dari hubungan yang saling menghargai dan terciptanya pribadi anak yang sehat serta terciptanya tumbuh kembang yang optimal.
Prinsip – prinsip dasar dalam mewujudkan komunikasi yang baik antara orangtua dan anak :
Tunjukkan Ketertarikan dan Perhatian
Berikan respon positif sebagai bentuk dari ketertarikan atau perhatian anda. Tujuannya adalah agar anak menyadari bahwa apa yang ia utarakan adalah penting bagi anda.
anda bisa memberikan tanggapan dengan kata sederhana spt cthnya ; ” Oohh gitu… ” atau ” iyaa…teruss? ” atau ” hmmm, jadi seperti itu yaa… “ atau bisa juga dengan ungkapan perhatian non verbal seperti menganggukkan kepala atau tersenyum.
Komunikasi non-verbal
Sikap tubuh juga bisa mencerminkan bahwa anda memperhatikan dan terbuka atas apa yang disampaikan anak. Usahakan posisi tubuh dalam kondisi condong ke anak bukan sebaliknya karena akan mencerminkan anda tidak tertarik, posisi tangan terbuka, hindari bersilang tangan dan menopang dagu karena bisa diartikan anda bosan mendengarkan anak. Komunikasi verbal dan non-verbal sama-sama penting, orangtua seringkali mengabaikan komunikasi non verbal sehingga anak bisa menangkap hal tersebut sebagai sinyal negatif seperti penolakan dan tidak dihargai.
Orangtua sebagai orang yang dapat diandalkan
Tawarkan bantuan jika isi pembicaraan mengandung sesuatu yang menyulitkan anak, buat anak merasa bahwa kita sebagai orangtua ingin ikut terlibat. Anda juga dapat memberikan saran jika anak mengemukakan kesusahannya dalam kasus tertentu, mengingat kemampuan problem solving anak yang masih terbatas. Namun, orangtua perlu ingat porsi yang cukup untuk menolong anak agar anak tetap dapat menyelesaikan masalahnya sendiri dan kemampuannya terus berkembang.
cthnya ; ” apa yang bisa ibu bantu? “
Terima perasaan anak
Amati perasaan anak dan terima dengan cara mengucapkan perasaan mereka. Kadang anak terjebak dengan masalah yang mereka hadapi sehingga tidak bisa mengkomunikasikan perasaan mereka. Dengan kita mencoba memahami mereka, anak akan merasa bahwa orangtua mengerti dan menerima perasaan mereka. kata-kata yang bisa diucapkan seperti contohnya ; ” itu bikin kakak sedih yaa… ” atau ” iyaa ibu juga sebel ya kl diperlakukan seperti itu… ” atau ” iyaa ibu mengerti kakak marah… “
Fokus orangtua hanya pada anak
Hindari aktivitas lain saat anak sedang berbicara dengan anak, misalnya sambil menonton TV atau mengangkat telepon dari orang lain. Jika orangtua kerap melalukan hal tsb maka lama kelamaan anak akan merasa tidak dihargai dan membuat mereka enggan menyampaikan perasaan mereka ke orangtua.
Jika anda terjebak dalam kondisi pekerjaan yang penting sebaiknya anda meminta anak menunggu kemudian memberikan ia waktu eksklusif untuk bercerita dibandingkan anda memaksaan seperti “menyambi” bekerja dan mendengarkan, komunikasi yang baik akan sulit terbentuk dan memungkinkan timbul konflik lain.
Berdua selalu lebih baik
Selalu tawarkan waktu berdua untuk komunikasi yang lebih bersifat pribadi, kecuali jika memang ada pihak lain yang perlu masuk dalam pembicaraan tsb. Namun pada dasarnya berbicara berdua dari hati ke hati dapat membangun komunikasi yang lebih efektif.
Kontak mata dan level yang sejajar
Kontak mata diperlukan untuk komunikasi yang baik salah satunya agar tercipta rasa saling percaya. Untuk itu usahakan orangtua selalu ada di satu level ketinggian saat bicara dengan anak. Posisi kepala yang sejajar atau satu level ini juga menunjukkan kepada anak bahwa komunikasi bersifat dua arah dan sama-sama memiliki kepentingan sehingga anak akan merasa lebih dihargai.
Membuat anak malu di depan umum adalah Big No No
Jangan mempermalukan anak dalam situasi tertentu misalnya saat anak melakukan kesalahan sebaiknya orangtua menunggu untuk mengkomunikasikan rasa kecewanya, memberikan hukuman rasa malu di depan umum bukan cara komunikasi yang baik.
Bicara dengan kepala dingin
Jika anda marah akan sesuatu pada anak, maka sebaiknya redakan dulu amarah anda baru komunikasikan kekecewaan anda. Berbicara saat marah akan menghilangkan objektifitas masalah dan bukan cara komunikasi yang baik. Dalam hal ini manusia dikendalikan oleh dua hal yaitu emosi dan logika, saat marah maka seseorang akan naik emosinya sehingga logika akan turun. Untuk itu, hindari komunikasi saat marah karena hanya akan berisi emosi dibandingkan logika.
Selamat menjalin komunikasi ya…
Oleh M.Hilmy Nur Aziz AP201

Minggu, 02 Juli 2017
Seputar Anak Dengan Orang Tua

Seputar Anak Dengan Orang Tua



  1. Kenali Anak Anda

Hal Seputar Parenting Bagaimana Menjadi Orang Tua Yang Baik
Kenali anak Anda baik-baik. kenali seluruh pribadinya, dan kenali mereka secara fisik dan psikologi mereka dengan sangat baik. Sebagai orang tua, Anda harus benar-benar paham apa yang anak-anak Anda suka dan tidak suka, apa yang mereka minati dan tidak mereka minati.
Anda juga perlu mengenali sifat-sifat mereka dan sumber-sumber yang bisa memancing emosi mereka. Orang tua harus super peka dengan setiap kondisi anak-anak. Anda tidak diizinkan untuk memaksakan apa yang mereka tidak suka untuk disukai atau melarang anak Anda melakukan apa yang mereka tidak suka. Dengan mengenali anak-anak, Anda akan mampu membuat mereka merasa merdeka atas diri mereka sendiri.
  1. Waktu yang Berkualitas

Hal Seputar Parenting Bagaimana Menjadi Orang Tua Yang Baik
Buatlah jadwal yang dapat Anda pertanggungjawabkan oleh diri Anda sendiri. Buatlah waktu yang berkualitas untuk bersama mereka. Anda bisa memberikan waktu Anda untuk sekadar bicara sebelum mereka tidur atau melakukan hal-hal yang mereka suka di akhir pekan seperti pergi ke kebun binatang atau berenang.
Lakukan hal tersebut dengan rutin agar anak-anak mendapatkan waktu yang berkualitas dengan Anda. Hadirkan diri Anda untuk mereka dengan berkualitas. Di titik ini Anda diharuskan benar-benar menjadi teman untuk mereka yang setia mendengarkan dan menjaga mereka dengan baik.
  1. Dukung

Hal Seputar Parenting Bagaimana Menjadi Orang Tua Yang Baik

Dukung hal positif yang telah mereka lakukan atau mungkin masih akan mereka lakukan. Dukungan dari Anda akan membuat mereka percaya bahwa mereka bisa melakukan sesuatu yang besar dan baik untuk mereka. Jika mereka melakukan kesalahan seperti mendapat nilai jelek, jangan pernah mundur atau memarahi anak-anak Anda. Tetaplah dukung mereka untuk terus belajar. Dengan begitu, anak-anak akan belajar bahwa melakukan kesalahan tidak apa-apa dan mereka akan belajar untuk memperbaiki diri.
Di luar semua hal di atas, yang menjadi fokus utama dari menjadi orang tua adalah tidak memaksakan apa yang mereka tidak suka dan buatlah mereka bahagia dengan memerdekakan diri mereka dengan segala hal positif yang mereka pilih.





Penulis      : Fikry Arif. T
Kelas        : AP202

www.blogger.com/blogger.g?blogID=6769007601501795055#editor/target=post;postID=9056930195988528275

Tips Membangun Komunikasi yang baik dengan Anak


Salah satu cara mendidik yang baik ialah dengan membangun komunikasi yang efektif dengan anak. Sayangnya, masih ada beberapa orangtua yang tidak menyadari betapa pentingnya membangun komunikasi efektif dengan anak. Bahkan lebih mementingkan aktivitasnya masing-masing.Keharmonisan dalam keluarga tercipta apabila adanya komunikasi yang baik tiap individu di dalamnya.

Komunikasi antara orangtua dan anak amatlah penting dan memiliki arti yang luas. Tak hanya memberikan informasi semata, tetapi juga aspek mendidik, memotivasi, merangsang pemikiran dan memacu kreatifitas adalah tujuan dari komunikasi. Oleh karenanya, komunikasi amat mempengaruhi kecerdasan, sifat dan sikap anak di masa mendatang. Berkomunikasi dengan baik juga membantu orangtua untuk siap menghadapi perkembangan anak.

Berikut beberapa hal untuk membangun hubungan baik dengan anak lewat komunikasi: 
1.Ajak anak untuk menceritakan masalahnya
Doronglah anak untuk menceritakan masalah yang sedang dihadapinya. Misalnya dengan menanyakan masalah apa yang sedang dihadapinya. Ketika anak bercerita, jangan memotong dengan kata-kata yang menyudutkan atau menyalahkannya. Jika hal itu Anda lakukan, tentu anak akan sungkan untuk melanjutkan ceritanya. Hal yang yang perlu Anda lakukan adalah membiarkannya bercerita, setelah itu memberikan solusi terbaik untuk masalah si kecil.

2.Luangkan waktu untuk anak
Hal yang tak kalah penting dalam menciptakan komunikasi dengan anak adalah dengan meluangkan waktu untuk anak. Apabila kedua orangtua sibuk dengan pekerjaan di hari senin hingga jumat, berikan waktu khusus untuk bercengkrama atau berlibur dengan anak pada hari sabtu dan minggu. Namun perhatian pada anak tak boleh dilakukan dua hari dalam seminggu saja. Luangkanlah sedikit waktu dalam sehari untuk memonitor perkembangannya, jangan sampai kurangnya perhatian membuatnya menjadi anak yang nakal.

3.Hindari kalimat negatif
Perkataan negatif kerap kali keluar dari mulut orangtua ketika sedang berbicara dengan anak. Terkadang maksud orangtua adalah baik, namun dengan penyampaian yang salah akan membuat anak kehilangan kepercayaan diri, sedih, bahkan marah. Pada saat anak tidak berhasil menjuarai salah satu perlombaan di sekolahnya orangtua tentu merasa kecewa. Tahanlah emosi Anda dengan tidak memarahinya yang akan berdampak stress pada anak. Sebaiknya berikan motivasi dengan nada yang lebih lembut agar ia tak sedih dan berusaha lebih giat untuk menjadi juara di kemudian hari.

4.Menjadi pendengar yang baik
Anak akan bercerita banyak bila Anda dengan senang hati menjadi pendengar yang baik. Menjadi pendengar yang baik juga membuat anak merasa dihargai. Tunjukkan juga rasa antusias Anda untuk mendengarkan cerita mereka sebagai pertanda bahwa Anda tertarik untuk mengetahui banyak hal tentang diri mereka. Ketika anak sedang berbicara, jangan sekali pun berpindah fokus kepada hal yang lain seperti sms atau koran.

5.Puji dan berikan kritik yang membangun
Orangtua yang baik adalah yang tetap ada ketika sang anak mengalami sebuah kegagalan. Memuji anak tak hanya ketika ia berhasil mendapatkan prestasi saja, tetapi juga ketika ia gagal. Hargai jerih payahnya, beri kritik serta bangkitkan semangat dalam dirinya agar mau berusaha lebih baik lagi. Dalam hal memuji juga tak boleh terlalu berlebihan karena anak bisa menjadi sombong karena merasa paling menguasai segalanya.

6.Gunakan bahasa yang dipahami anak
Ketika berkomunikasi dengan anak, gunakanlah bahasa yang sederhana dan dapat dimengerti. Kata-kata yang rumit akan menghambat masuknya pesan yang hendak disampaikan orangtua.

Cara terbaik untuk mengekspresikan perasaan adalah dengan menjalin komunikasi efektif dengan anak sejak anak masih kecil,maka nantinya ketika mereka dewasa ,mereka pun bisa mengekspresikan perasaannya dengan baik.

#Yonatan
#ap
#201

Seputar Anak Dan Orang Tua

BIARKAN ANAK BERMAIN DENGAN BEBAS

Biarkan Anak Bermain Dengan Bebas

Ajarkan anak-anak untuk bermain. Mendengar anjuran ini, mungkin Anda segera mengerutkan alis. Bukannya anak-anak memang gemar bermain? Memang, tapi dengan semakin modernnya dunia ini, anak-anak lebih cenderung memilih permainan yang sifatnya lebih terstruktur. Misalnya, bermain video games, bermain kasti dengan teman-teman di sekolah, atau kursus balet bersama anak-anak sebaya. Menurut Darell Hammond, penulis buku best-seller berjudul KaBOOM!: How One Man Built a Movement to Save Play, tipe permainan seperti ini sebenarnya kurang alami untuk anak-anak.

"Jenis permainan yang baik bagi anak adalah semua jenis permainan," tutur Hammond, yang juga pendiri KaBOOM!, sebuah organisasi nirlaba yang membantu membangun tempat bermain di berbagai komunitas di Amerika Serikat. "Yang kita lihat sekarang ini, anak-anak terlalu banyak menjalani aktivitas yang sangat terstruktur dan mendorongnya untuk bermain dalam tim. Padahal, mereka juga butuh permainan yang bebas dan kreatif," ujarnya.

Hammond selalu menekankan pentingnya bermain bagi anak dan mengapa orangtua perlu lebih sering membiarkan mereka berkreasi mengubah boks sepatu menjadi mobil-mobilan, alih-alih membelikannya mobil-mobilan yang bagus. Menurutnya, permainan seperti ini akan membuat otak anak lebih kreatif bekerja. Saat dewasa nanti, kreativitas ini akan melekat dalam benak mereka pada saat menghadapi berbagai tantangan hidup dan juga pekerjaan.

Lingkungan sekitar rumah adalah tempat bermain yang paling ideal, apalagi kalau Anda memiliki halaman yang cukup luas. Jadikan berbagai sudut rumah maupun halaman sebagai tempat bermain anak. Hammond memberikan beberapa tips yang berguna bagi para orangtua:

1. Perhatikan desain ruangan
Hammond menganjurkan Anda untuk memilih warna-warna yang cerah untuk tempat bermain anak. Pastikan ruangannya cukup luas untuk berlari dan melompat, serta ada pojokan yang bisa menjadi tempat mereka membaca maupun sekadar duduk santai.

2. Perlengkapan bermain yang wajib
Menurut Hammond, tempat bermain yang baik memiliki beberapa elemen penting. Pertama adalah pasir dan air sehingga dapat mendorong anak untuk belajar membangun sesuatu dengan daya kreativitasnya. Sementara, yang kedua adalah balok-balok dalam berbagai bentuk sehingga anak-anak dapat belajar mengenal bentuk dan menciptakan bentuk-bentuk baru.

3. Pendampingan orangtua
Menemani anak-anak bermain akan memberi manfaat tersendiri. "Orang dewasa dapat menjadi panutan bagi anak-anak. Karena itu, Anda perlu sesekali bermain bersama mereka," anjur Hammond. Namun, jangan sampai Anda malah jadi cenderung mengatur permainan mereka. Biarkan mereka memilih dan mengatur alur permainan sesuka mereka. Anggaplah diri Anda sebagai salah seorang teman bermainnya.


Fenida Fitri
AP.202

Sabtu, 01 Juli 2017
Artikel tentang Peran Komunikasi Orang Tua dengan Anak Usia Remaja

Artikel tentang Peran Komunikasi Orang Tua dengan Anak Usia Remaja

Peran Komunikasi Orang Tua dengan Anak Usia Remaja

Ilustrasi 1
                Anto adalah anak SMP kelas 7. Tampak dari luar, Anto adalah anak yang sehat, aktif selayaknya anak remaja lainnya. Dia rajin ke sekolah dan selalu mengusahakan dirinya tidak terlambat ke sekolah. Tapi sayangnya, di sekolah, banyak teman di kelasnya menolak Anto. Teman-temannya menilai Anto adalah anak yang kasar, mengeluarkan kata-kata yang kasar kepada temannya. Bahkan dengan beraninya dia melakukan ini kepada beberapa gurunya. Banyak yang mencap Anto sebagai anak nakal, guru-guru di sekolahnya bahkan memiliki pendapat yang hampir sama, bahwa Anto memiliki masalah. Wali kelasnya Anto berusaha menjalin komunikasi dengan orang tuanya. Setelah berkomunikasi dengan orang tuanya, ditemukan bahwa di rumah Anto jarang berkomunikasi dengan Ayahnya, bahkan Anto sering membentak ibunya. Hampir setiap hari terjadi keributan di rumahnya karena Anto sering beradu argument dengan ibunya. Ibunya mencap Anto sebagai anak yang nakal bahkan bodoh. Bapaknya hampir tidak pernah berbicara dengan Anto selama satu hari.
Ilustrasi 2
                Cyndi adalah anak SMA kelas 10. Dia adalah anak yang pintar, bahkan sering juara di kelasnya. Dia adalah anak yang terlibat aktif di beberapa kegiatan di sekolahnya. Hampir setiap hari, dia mengunjungi Guru BImbingan Konseling di ruangan BK. Ada begitu banyak cerita yang diceritakannya kepada Guru Bimbingan Konseling. Dia menceritakan tentang kegiatan di kelasnya, hal-hal yang lucu dengan teman-temannya, dan bahkan sampai hal-hal yang rahasia. Guru Bimbingan Konselingnya dengan penasaran bertanya kepada Cyndi apakah dia sering menceritakan hal yang sama kepada orang tuanya atau tidak. Jawaban yang mengejutkan ditemukan oleh guru BK, ternyata dia tidak menceritakan hal-hal tersebut kepada orang tuanya. Setelah ditanya, Cyndi menjawab bahwa dia tidak mempercayai orang tua lebih khusus mama karena mamanya tidak bisa memegang hal-hal yang rahasia, bahkan pernah Cyndi diejek oleh tante dan keponakannya atas cerita yang diceritakan Cyndi kepada mamanya.
Sebagai orang tua, apakah anda pernah mengalami hal-hal tersebut di atas? Pernahkan anda hampir setiap hari bertengkar dengan anak anda? Apakah anak anda berkata dan bertingkah laku terlalu kasar kepada anda? Atau pernahkan anda mendengar hal-hal luar biasa yang dialami anak anda dari cerita orang lain? Pernahkah anda mengalami masa-masa sulit dimana anak anda tidak berkomunikasi dengan anda untuk hal-hal yang dialaminya selama di sekolah atau di tempat lain? Hal-hal ini dialami oleh beberapa orang tua di berbagai belahan bumi dan bagi sebagian orang tua hal ini masih merupakan hal sulit untuk dipecahkan. Meskipun pernah mengalami masa-masa remaja, beberapa orang tua masih sulit mengenal anak remaja dan karakteristiknya. Saat anak remaja mereka mengalami kesulitan, orang tua masih tidak tahu cara untuk masuk kedalam dunia anak remaja, kebanyakan mereka menggunakan konsep pemahaman mereka sendiri tanpa mengenal dengan baik anak remaja itu sendiri.
Beberapa ahli memiliki batasan yang berbeda-beda mengenai usia anak remaja. Hurlock (1981) mendefinisikan remaja adalah anak yang berada pada rentan usia 12 sampai dengan 18 tahun1. Stanley Hall yang dikutip dalam Santrock (2003) membatasi usia remaja pada 12 sampai 23 tahun4. Monks memberikan batasan usia dari 12 sampai dengan 21 tahun (2000)2. Batasan usia yang disampaikan oleh para ahli memiliki beberapa persamaan dimana masa remaja dimulai pada usia 12 tahun, sedangkan perbedaannya akhir dari usia remaja ini masih terus diteliti oleh beberapa ahli.
Dalam perkembangan sebagai remaja, terjadi beberapa perubahan yang menyebabkan kebingungan baik secara fisik maupun secara kognitif. Secara kognitif, anak remaja juga mengalami perubahan. Piaget yang dikutip oleh Santrock (2003), menjelaskan bahwa pada masa perkembangan ini remaja mulai berpikir dari abstrak ke konkrit4. Perubahan yang sering sulit dimengerti oleh beberapa orang tua adalah perubahan social dimana mereka akan belajar bersosialisasi dan mulai berpindah dari cara hidup yang indvidualistis ke sosialis.
Pada masa pertumbuhan ini, banyak orang tua menghadapi banyak kebingungan dan kesulitan dalam membimbing anak-anaknya. Kesulitan dan kebingungan ini, selain disebabkan oleh ketidaktahuan orang tua, hal lain juga disebabkan oleh harapan orang tua yang berbeda kepada anak remaja mereka. Beberapa orang tua berharap bahwa di usia remaja, anak mereka akan lebih sopan, pandai bergaul, pintar dan sukses. Harapan ini membuat orang tua terkadang bertindak berlebihan dalam menjaga anak tanpa memperhatikan perkembangan anak. Kesulitan orang tua untuk mengomunikasikan harapan mereka kepada anak dan ketidaktahuan bahkan ketidakmengertian anak dengan berbagai tindakan orang tua menyebabkan masalah yang dihadapi oleh orang tua dan anak.
Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk membuat anak remaja terhindar konflik dengan orang tua, bahkan mempercayai orang tua untuk menjadi pendamping mereka di masa-masa sulit yang mereka alami. Salah satu yang penting yang dibahas dalam artikel ini adalah komunikasi. Komunikasi yang terjalin antar orang tua dengan anak. Komunikasi, menurut Roben, merupakan kegiatan perilaku atau kegiatan penyampaian pesan atau informasi tentang pikiran atau perasaan (2008)3.
Dalam berkomunikasi dengan remaja, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, sebagai berikut:
Apa. Saat berkomunikasi, ‘apa’ lebih berkaitan dengan isi pesan yang akan disampaikan oleh orang tua kepada anak. Orang tua yang mau berkomunikasi dengan anak harus memiliki pesan yang jelas. Kejelasan pesan ini sering terganggu saat orang tua yang berkomunikasi dengan anak dalam keadaan marah. Orang tua sebaiknya mempersiapkan dengan baik isi pesan saat berkomunikasi dengan anak, karena isi pesan itu dapat merubah hidup dari anak yang menerima pesan tersebut.
Siapa. Berkomunikasi dengan anak, orang tua perlu memperhatikan dengan benar pribadi dari anak, yang dimaksudkan disini adalah lebih pada tahap perkembangan anak. Anak bisa berada pada rangkaian usia bayi, toddler & pra sekolah, usia sekolah, remaja, dewasa, dll. Berkaitan dengan komunikasi, beberapa orang tua sering salah dalam berkomunikasi dengan anak, ada orang tua yang memperlakukan anak remaja seperti anak kecil saat berkomunikasi atau juga sebaliknya, hal ini berdampak buruk kepada perkembangan anak.
Kapan. Masalah yang timbul dalam diri anak juga disebabkan oleh kurangnya waktu orang tua berkomunikasi dengan anak. Kesibukan orang tua terkadang menjadi alasan untuk berkomunikasi dengan anak. Sebenarnya orang tua bisa berkomunikasi dengan anak kapan saja, misalnya saat sarapan pagi, mengantar anak ke sekolah, menjemput anak dari sekolah, makan malam, menonton tv bersama, mengunjungi suatu tempat bersama, atau saat menghabiskan akhir minggu bersama. Apabila komunikasi ini dibatasi oleh tempat, orang tua bisa menggunakan alat komunikasi dengan maksimal, menelpon, menggunakan pesan singkat, melakukan video call.
Dimana. Sekali lagi perlu ditegaskan bahwa komunikasi orang tua dan anak tidak dibatasi oleh baik waktu maupun tempat. Berkaitan dengan ‘dimana’, topik atau isi pembicaraan menentukan kualitas dari pembicaraan. Apabila anak ingin menceritakan hal-hal yang bersifat rahasia, tentu orang tua juga bisa menyediakan tempat yang tempat misalnya mengajaknya berbicara di tempat yang tidak ramai, begitu juga saat orang tua berada dalam keadaan marah dan menegur anak, pada umumnya menegur anak di depan umum atau di depan teman-temannya dapat mengganggu isi pesan saat berkomunikasi.
Mengapa. Berkaitan dengan hal ‘mengapa’, orang tua perlu menyadari bahwa orang tua memang wajib berkomunikasi dengan anak, hal ini dilakukan sebagai bentuk tanggungjawab orang tua kepada anak. Komunikasi wajib terus dijalin oleh orang tua meskipun anak tersebut sudah menikah. Komunikasi ini dilakukan berdasarkan prinsip kasih, bukan hanya simpati tapi juga empati. Berkaitan dengan tanggungjawab orang tua untuk berkomunikasi dengan anak, apabila anak dengan terbuka menceritakan hal-hal yang dialaminya, ini akan menghindarkan anak untuk mencari pendapat atau jalan keluar dari orang yang kurang tepat, bahkan membahayakan mereka.
Bagaimana. Setiap orang tua memiliki cara sendiri untuk berkomunikasi dengan anak mereka. Komunikasi dengan anak bisa dilakukan secara langsung (berhadapan atau melalui media), atau juga melibatkan pihak ketiga (Guru, Pembina Anak, Pembina Remaja, Pendeta, dll). Di point ini, sedikit saran yang bisa dibagikan saat berbicara dengan anak secara langsung adalah 1). Yakinkan saat berbicara dengan anak, terjadi kontak mata dengan anak, 2). mendengar dengan saksama apa yang diceritakan oleh anak, 3). Berusaha menjawab setiap pertanyaan anak, atau menjelaskan sebenar mungkin keraguan-keraguan yang dimiliki anak, 4).  Apabila anak melakukan kesalahan, berikan kesempatan sebaik mungkin bagi anak untuk menjelaskan kejadiannya dari sisinya, setelah selesai orang tua bisa menjelaskan dari sisi orang tua, 5). Jangan cepat mencap anak dengan istilah/kata-kata tertentu seperti “kamu tidak tahu apa-apa”, “kamu bodoh”, dll, melainkan usahakanlah menggunakan kata-kata yang membangun rasa percayanya untuk berkomunikasi dengan orang tua.  Hal-hal ini menumbuhkan rasa kepercayaan anak untuk berbicara dengan orang tua apabila dia mengalami sesuatu.
Komunikasi yang terjalin baik antara anak dan orang tua sejak usia dini memiliki dampak besar. Komunikasi yang baik adalah dengan memperhatikan pertumbuhan dan perrkembangan anak, sehingga ini dapat membawa dampak yang baik kepada anak. Komunikasi yang memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan anak akan membangun kedekatan emosi orang tua dan anak sehingga anak memiliki keterbukaan dengan orang tua. Keterbukaan ini mencegah anak untuk melakukan hal-hal yang dapat merugikan diri dan orang lain.

laila nadia AP 202
http://yayasanebenhaezar.or.id/artikel-tentang-peran-komunikasi-orang-tua-dengan-anak-usia-remaja/
Tips Mendidik Anak

Tips Mendidik Anak


Tips Jitu Mendidik Anak Agar Patuh Pada Perintah Orangtua

Seringkali para orangtua dibuat frustasi sewaktu anak-anak mereka sulit sekali dinasihati dan dilarang melakukan sesuatu hal.
Dinasihati tidak mendengar, diberikan pengertian tidak masuk sama sekali,  apalagi sewaktu diberikan perintah, jangankan mendengar, mereka malah menolak mentah-mentah perintah kita dan berlalu begitu saja. Namun lagi-lagi, meski diperlakukan demikian seringkali sebagai orangtua kita kalah dengan ego anak yang begitu tinggi dengan alasan mereka masih kecil dan belum mengerti apa-apa. Namun tahukah anda, jika pola asuh yang demikian terus-terusan anda terapkan pada anak-anak, hal ini bukannya menyelesaikan masalah dan membuat anak anda menjadi patuh. Sebaliknya, sikap anda yang terus-terusan memberikan kesempatan pada anak sewaktu mereka melakukan kesalahan dengan berharap suatu hari nanti mereka bisa berubah menjadi patuh dan penurut adalah hal yang keliru.Memang benar, anak adalah buah hati tercinta yang kita lahirkan dengan susah payah yang sudah seharusnya kita cintai dan kita sayangi, namun ada begitu banyak cara yang tepat dalam mencintai anak dan menyayangi mereka. Memberikan mereka semua keinginannya dan terus-terusan mengalah pada anak bukanlah tindakan yang tepat dalam mencintai buah hati kita. Semua orangtua tentunya ingin jika anak yang dimilikinya tumbuh menjadi anak yang baik penuh kasih sayang, namun juga berbakti pada kedua orangtuanya. Untuk itulah, ada masaya dimana anda harus dengan tegas mendidik mereka menjadi anak yang baik seperti yang anda harapkan. Semua tahapan yang akan anda lalui tentu akan sangat melelahkan dan mungkin membuat anda susah payah mendidik mereka. Namun pada akhirnya nanti, ketika anak anda telah tumbuh menjadi seseorang yang baik seperti yang anda harapkan, maka masa depan yang cerahlah yang akan mereka dapatkan.
Tidak ada orangtua yang akan menjerumuskan anaknya pada lembah kesalahan, namun tentunya pola asuh dan cara mendidik anak harus anda perhatikan. Mendidik anak agar tumbuh menjadi seseorang yang patuh dan penurut tidak berarti harus dilakukan dengan keras seperti pola didikan para militer, yang terpenting adalah konsisten dan tegas. Buat anak bertanggung jawab dengan apa yang dimilikinya dan apa yang telah diperbuatnya. Dengan begini mereka akan mampu memelihara apa yang mereka miliki.
mendidik anak agar patuh pada perintah orangtua
Namun juga tidak berarti dengan memberikan pola didikan keliru yakni dengan mengabulkan semua keinginan anak dan menghujaninya dengan harta benda mewah sebagai wujud kasih sayang anda yang tak terkira. Pola asuh yang seperti ini tentu saja tidak akan berhasil, sebab anak akan tumbuh menjadi seseorang yang manja dan merasa segala keinginannya harus dipenuhi, disamping itu sifat egoisme-nya juga akan semakin tinggi. Maka jangan heran jika ketika anda memberikan perintah atau meminta bantuan anda, mereka akan berlaku sesuka hati mereka dengan menolak atau mengabaikan anda.
Nah, cara berikut ini penting sekali diterapkan pada anak-anak ketika anda mendidik mereka agar bisa patuh sewaktu anda memberikan perintah.

1. Panggil Nama Mereka

Ketika anda membutuhkan bantuan anak-anak atau sewaktu anda hendak memberikan perintah kepada buah hati, hendaknya tidak usah berteriak atau mengomel dengan tidak jelas. Selain tidak akan menyelesaikan masalah, hal ini tidak akan membuat anak anda seger menghampiri anda dan melakukan perintah yang anda berikan pada mereka. Sebaliknya, kondisi anak-anak malah akan terkejut, takut dan bahkan kesal dengan tidak mau menghampiri atau bahkan berpura-pura tidak mendengar. Anda tentu tidak ingin jika hal ini terjadi bukan? Nah, untuk itulah sebuah teriakan bukanlah cara yang baik mendidik anak.

Ada baiknya ketika anda membutuhkan mereka atau hendak memberikan perintah, segera hampiri mereka atau hampiri keluar saat mereka bermain diluar. Lalu dekati mereka dan katakan jika anda membutuhkan mereka dirumah. Ingatlah jaga citra anak-anak dihadapan teman mereka, jangan sampai anda memberikan perintah atau meneriaki anak-anak didepan teman-temanya. Hal ini akan membuat mereka malu dan malah jengkel pada diri anda. Ketika anak jengkel, maka bisa ditebak hal lain yang akan terjadi adalah pertengkaran dengan anak yang malah akan memperburuk suasana.

2. Dengarkan Anak-Anak Anda

Meski anda memberikan perintah pada anak-anak atau pada saat anda benar-benar membutuhkan mereka, ini bukan berarti anda harus mengabaikan mereka dan tidak mendengarkan keluahannya. Perilaku anak-anak yang menolak atau tidak mengabulkan perintah anda bisa dilatarbelakangi karena mereka capek sepulang sekolah, tidak enak hati dengan lingkungannya atau merasa tidak enak badan. Untuk itu, sebaiknya maklumi dan berikan perintah sesuai dengan kapasitas anak.

3. Kondisikan Perintah dengan Waktu Anak-Anak

Sewaktu anda memberikan perintah dan anak-anak terlihat malas melakukannya, jangan terlalu dini menghakimi bahwa anak anda malas dan sulit diberikan perintah. Kondisikan terlebih dahulu dengan waktu anak, apakah kala itu anda memberikan perintah saat anak baru saja pulang sekolah, pulang les atau saat anak lelah pulang bermain. Hal ini tentu saja akan menguras tenaga anak sewaktu anda memberikan perintah. Untuk mengatasi hal ini adalah dengan memberikan kesempatan pada anak untuk beristirahat sejenak dan meminta mereka saat tenaganya sudah kembali pulih. Selain itu, mintalah dengan sopan, kondisi lelah pada anak akan membuat segala hal yang membebaninya menjadi sebuah tekanan untuk dirinya. Dengan meminta lewat cara yang sopan akan membuat tekanan dalam diri anak memudar dan membuat mereka lebih mungkin mau melakukan perintah anda.

4. Tatapan Mata Anda Pada Mereka

Sebuah tatapan matamemiliki kekuatan untuk menunjukan sebuah perasaan. Ketika orangtua menatap mata anaknya, maka mereka akan melihat bahwa kita memberikan perhatian, bukannya amarah dan perintah yang telak yang mendikte mereka. Dengan menatap mata anak, mereka akan paham betapa anda membutuhkan mereka dan ingin anak anda memberikan bantuannya. Selain itu, tatapan mata akan membuat anak merasa dipedulikan dan diperhatikan. Untuk itu, jangan lupa tatap mata anak dan letakan tangan anda dibahunya sewaktu anda ingin memberikan perintah pada mereka.

5. Bercermin Diri

Terkadang orangtua lupa bahwa mereka pun sebenarnya sering ingkar janji entah pada lingkungan atau anak-anak mereka sendiri. Dari semua teori cara mendidik anak, introspeksi diri atau bercermin diri seringkali menjadi hal yang terabaikan. Bagaimana mungkin seorang anak mau mendengarkan perintah orangtua dan patuh pada semua perintahnya, jika orangtua mereka seringkali tidak tegas dan konsisten terhadap ucapannya. Apalagi diperparah dengan sikap orangtua yang seringkali memarahi anak-anaknya atas hal yang sebenarnya sering mereka lakukan sendiri. Untuk itu, penting sekali memperbaiki sikap dan perilaku sendiri sebagai orangtua sebelum mengajarkan anak tentang sesuatu hal.
Memiliki anak yang penurut dan patuh pada perintah orangtuanya tentu saja menjadi kebahagiaan yang tak terhingga untuk orangtua itu sendiri. Dan cara diatas diharapkan mampu membantu orangtua mendidik anaknya.

Sumber : http://bidanku.com/tips-jitu-mendidik-anak-agar-patuh-pada-perintah-orangtua

Nama : Widia Dewi Ismi Salam
Kelas : AP-202
Kamis, 29 Juni 2017
Cara Mendidik Anak Autis Agar Berprestasi

Cara Mendidik Anak Autis Agar Berprestasi


Bagi mereka yang mengalami autis terjadi karena adanya gangguan sistem saraf yang dialami oleh anak anda sejak lahir atau pada masa perkembangan balitanya. Autisme adalah bagian dari kelainan Autism Spectrum Disorders (ASD) yang berada pada ruang lingkup gangguan perkembangan pervavif yang menyebabkan terjadinya gangguan pada otak yang tidak berfungsi normal layaknya perkembangan diusianya. Banyak yang menyebutkan terjadinya anak autis dikarenakan adanya kombinasi faktor genitik dan faktor lingkungan. Penyebab autisme diyakini karena adanya perubahan gen, perubahan korteks dan carebellium yang berperan dalam perkembangan otak sehingga keseimbangan tersebut dikaitkan dengan autisme. Banyak pula yang berpendapat bahwa autis disebabkan karena adanya faktor lingkungan penggunaan pestisida yang dapat merusak gen kemudian obat-obatan yang dikonsumsi saat kehamilan akan mempengaruhi perkembangan janin dan memicu terjadinya autisme.
Pada sebuah penelitian mengatakan bahwa ciri anak autisme dapat dideteksi dini pada bayi mulai berusia 6 bulan yang menunjukan ciri-ciri tidak mau tersenyum, kesulitan dalam bereaksi ketika dipanggil namanya bahkan lebih temperamen pada usia yang dibilang masih bayi. Interaksi yang kurang dengan lingkungannya sehingga ekpresi muka kurang ditunjukan memasuki usia 12 bulan. Perkembangannya semakin terasa memasuki usia satu tahun yaitu gangguan berbahasa dan berkomunikasi, kemampuan bahasa tubuhnya sanga terbatas bahkan kurang. Pencegahan dini bisa anda lakukan untuk segera memberikan pengobatan terbaik dengan cara berkonsultasi dengan dokter. Meskipun anak autis mempunyai perilaku yang tertutup dan cenderung tidak ingin berinteraksi dengan sosial bukan berarti anda tidak memberikan pendidikan dan pengawasan, justru banyak mereka yang memiliki kekurangan seperti halnya autis memiliki prestasi yang membanggakan tentu saja dengan peranan dari anda dan lingkungannya.
Bukan suatu hal yang mustahil dalam menemukan cara mendidik anak autis agar berprestasi, berikut adalah langkah-langkahnya :
1.    Perhatikan faktor tempat tinggalnya
Memberikan lingkungan yang terbaik untuk anak autis memang hal yang terpenting selain dapat menempatkannya dengan cara yang terbaik, lingkungan sangat berpengaruh untuk meningkatakan kepercayaan diri dalam meraih kemampuannya. Bekali dengan faktor penting seperti halnya keagamaan yang ditanamkan semenjak dini kemudian juga faktor keluarga yang sangat dominan karena anak autis sangat membutuhkan pengawasan dan perhatian yang lebih dalam pola mendidiknya. Dengan membangun komunikasi yang baik sehingga anda dapat bersikap tegas dan disiplin untuk anak anda.Faktor sekolah adalah faktor selanjutnya yang menjadi penentu perkembangan anak anda. Pemilihan sekolah yang sesuai dengan kualitas yang terbaik akan membuka peluan terbesar untuk anda berprestasi lebih besar. Meskipun demikiann lingkungan keluarga, lingkungan sosial dan lingkungan sekolah adalah motivasi terbesar untuk anda anda dalam berprestasi.
2.    Mengembangkan bakat
Bakat anak autis bukan datang sendirinya melainkan anda sebagai orang tua dapat memberikan pilihan dan mengenalkanya kepada anak anda. Mengikut sertakannya dalam test minat dan bakat sebagai upaya dalam menemukan bakat anak anda. Setelah ditemukan bakatnya anda dapat mengarahkannya ke sanggar atau sekolah yang dapat mengembangkan bakatnya.
3.    Pilihan pendidikan yang tepat
Pada anak autis pendidikan bisa dipilihkan antara pendidikan yang bersifat vocation yaitu pendidikan yang ideal untuk anak-anak yang membutuhkan kebutuhan khusus biasanya anak autis memiliki IQ dan EQ yang tidak seimbang sehingga butuh dukungan dalam pendidikannya. Baik pendidikan formal maupun autis bisa diberikan secara bersamaan.

By: Dewi Yulianti (AP-202)

Sumber: http://bidanku.com/cara-mendidik-anak-autis-agar-berprestasi
Rabu, 28 Juni 2017

Peran Orang Tua dalam Memberikan Motivasi Belajar Anak

Peran Orang Tua dalam Memberikan Motivasi Belajar Anak

Orang tua adalah guru pertama bagi anak, karena orang tualah yang pertama kali mendidik atau menanamkan pendidikan dasar kepada anak-anaknya. Motivasi merupakan syarat mutlak dalam belajar, oleh karena itu hendaknya orang tua senantiasa memotivasi anak agar lebih giat dalam belajar dan juga berprestasi. Motivasi belajar dari orang tua merupakan salah satu bentuk nyata pentingnya peran orang tua terhadap pendidikan anak-anaknya
Namun sayangnya, kebanyakan para orang tua menyerahkan pendidikan si kecil sepenuhnya pada sekolah. Padahal seharusnya orang tua memberikan perhatian dan semangat belajar yang lebih sehingga dapat memunculkan motivasi belajar anak. Orang tua harus bekerja sama dengan sekolah bagaimana memahami kurikulum dan memberikan pengajaran saat mendampingi anak. 
Orang tua juga harus menemani atau mendampingi si kecil saat belajar. Saat mendampingi si kecil belajar, orang tua harus siap memberikan pertolongan dengan membantu kesulitan yang dihadapi anak, mengatasi masalah belajar, memberi dukungan kepada anak dan menjadi teladan bagi anak-anak.
Orang tua juga sebaiknya melakukan komunikasi dengan anak sebagai bentuk perhatian kepada si kecil. Perhatian yang diberikan orang tua terhadap anak dapat berpengaruh terhadap motivasi belajarnya. Misalnya pada saat anak pulang sekolah hendaknya orang tua menanyakan apa  saja yang dilakukan di sekolah. Karena tidak menutup kemungkinan, si kecil memiliki masalah dengan teman atau pun guru, atau masalah sosial ketika di sekolah. Dengan seringnya orang tua menanyakan kepada anak tentang kegiatannya di sekolah dapat membangkitkan motivasi belajar si kecil, karena ia merasa mendapatkan perhatian yang lebih dari orang tuanya.
Tak hanya itu, perlu Ibu ingat sebaiknya orang tua tak hanya menekankan motivasi belajar untuk meraih prestasi dalam bidang akademik semata. Peran orang tua dalam membangkitkan motivasi belajar anak sangat perlu dilakukan mulai dari yang akedemik maupun non akademik. Jadi jangan hanya mengukur kepintaran anak dari ranking saja. Tapi, lihatlah bagaimana ia bersosialisasi dengan orang dan lingkungan sekitar, bagaimana ia mengembangkan ide dan kreativitasnya, gerak tubuhnya, dan lain-lain. Motivasi belajar dari orang tua lah yang membuat si kecil menjadi lebih percaya diri untuk berprestasi.
nama : rizky paulus
kelas : ap 201
Minggu, 25 Juni 2017

Bahaya Anemia dalam Kehamilan

Bahaya Anemia dalam Kehamilan 

 

Jika Anda sering mengalami rasa lelah selama kehamilan, bisa jadi hal tersebut merupakan gejala anemia. Anemia merupakan suatu keadaan dimana hemoglobin berada di bawah batas normal.
Anemia pada masa kehamilan akan lebih berbahaya karena bukan hanya mempengaruhi ibu namun si janin juga akan mendapatkan pengaruh buruk dari anemia. Semasa kehamilan darah ibu hamil akan mengalami pengenceran dikarenakan jumlah cairan dalam pembuluh darah yang lebih banyak. Hal tersebut akan menimbulkan anemia relatif. Yang artinya jumlah sel darah merah tetap namun jumlah cairan bertambah sehingga darah menjadi lebih encer. Hal ini akan bertambah parah apabila seseorang ibu hamil telah menggalami anemia sebelumnya. Jumlah sel darah merahnya akan jauh lebih sedikit dari yang seharusnya.
Sel darah merah yang kurang dari normal ini mengakibatkan jumlah oksigen yang dapat diangkut oleh sel darah merah menjadi berkurang. Hal ini dapat berakibat terjadinya pertumbuhan janin yg terhambat, kelahiran prematur dan meningkatkan resiko kelainan dan kematian ibu dan janin.
Untuk mencegah anemia beserta resikonya, ibu hamil dianjurkan untuk mengkonsumsi suplemen besi. Suplemen ini dapat menyebabkan mual, oleh karena itu dianjurkan mulai mengkonsumsi suplemen beli pada bulan ke empat atau ke lima kehamilan. Biasanya pada bulan-bulan tersebut ibu hamil sudah tidak begitu mengalami mual seperti pada bulan-bulan awal kehamilan. Dianjurkan pula untuk mengkonsumsi makanan bergizi dan istirahat yang cukup. Jangan lupa untuk mengkonsultasikan dengan tenaga medis. 

sumber : buahhatisehat.blogspot.co.id

Syifa Fauziah Ap202
Rabu, 21 Juni 2017

Cara Bantu Anak Kenali Emosi

Perkembangan kemampuan anak meregulasi emosi, akan berkembang sesuai dengan peningkatan kecerdasannya. Menurut Devi Raissa, M. Psi., psikolog dari Rainbow Castle, anak tetap perlu dikenalkan dengan emosi apa pun yang ia rasakan, entah marah, sedih, senang, takut, terkejut, dan lain sebagainya.

Caranya, kata Devi, dengan langsung memberi label setiap ekspresi emosi yang ditunjukkan oleh anak. Misalnya, saat anak tertawa-tawa, kita bisa langsung mengatakan begini, “Wah, lagi senang, ya, karena Papa pulang dari luar kota?” Atau, ketika anak merengut, Anda mengatakan, “Kamu lagi sedih, ya, soalnya saudara sepupu kamu sudah pulang?”

Jika orang tua melabel setiap ekspresi emosi, anak jadi bisa memahami dan mengenali bahwa ia kesal, misalnya, karena hal ini, bukan karena hal lain.“Kalau anak terbiasa tahu, lama-lama ia akan gampang juga meregulasi emosinya, sehingga ketika ia punya perasaan tertentu, tidak langsung memukul temannya, misalnya, atau langsung menangis, atau marah,” tambah Devi. “Ketika anak masuk ke dunia prasekolah atau TK, ia pun akan lebih gampang bergaul dengan teman-teman sebayanya.”

Selain melabeli emosi anak, Anda juga perlu memberikan label kepada emosi Anda sendiri. Misalnya, Anda bisa mengatakan, “Aduh, Mama lagi sedih karena macet banget, jadi cuma bisa ketemu kamu sebentar, dan kamu juga sudah ngantuk.” Dengan begitu, anak juga bisa mengenali atau menangkap sinyal-sinyal emosi yang ditunjukkan orang lain, dan mampu menerima sudut pandang orang lain, peka terhadap perasaan orang lain, serta lebih mampu mendengarkan orang lain. Kemampuan itu penting untuk Anda kembangkan pada anak bukan hanya agar ia bisa menjadi anak yang ‘manis’, tetapi juga bisa membantu ia dalam pergaulannya dengan orang lain kelak.

Jangan takut salah melabeli suatu emosi, Ma. “Kalaupun Anda salah saat melabeli emosi anak, atau kurang tepat, pasti anak juga akan ngomong, memberi tahu yang sebenarnya, sehingga Anda bisa mengoreksinya. Jangan lupa untuk melabeli lagi setelah itu, ya, Ma,” tambah Devi.

Untuk membantu anak memahami emosinya, Devi menyarankan untuk membacakan cerita dari buku dengan unsur nama-nama perasaan, atau mengarang sendiri ceritanya. Anda juga bisa mengajak anak bermain, untuk mengekspresikan emosi yang ia rasakan, sekaligus mengatasi emosinya itu.

YULIANI-AP201-
Selasa, 20 Juni 2017

7 Kesalahan Mendidik Anak Yang Sering Tidak Disadari Orang Tua

Awal perkembangan seseorang akan berpengaruh besar dalam pembentukan kepribadian dan terus mempengaruhi perilakunya di kemudian hari. 





Masa kanak-kanan seringkali disebut sebagai masa keemasan. Pada masa inilah, kepribadian manusia mulai terbentuk. Apa yang dipelajari pada masa kanak-kanak akan menentukan menjadi siapa ia di masa mendatang. Hal ini yang diungkapkan ahli psikoanalisa ternama, Sigmund Freud. Menurutnya, awal perkembangan seseorang akan berpengaruh besar dalam pembentukan kepribadian dan terus mempengaruhi perilakunya di kemudian hari.

Orangtua memiliki andil penting dalam perkembangan seorang anak. Merekalah orang pertama yang dekat dan menjadi contoh si anak. Mereka pula yang menjadi guru pertama bagi sang anak. Tapi, tanpa disadari orangtua justru sering melakukan kesalahan-kesalahan dalam mendidik anak. Apa saja kesalahan-kesalahan tersebut?

1. Terlalu Sering Mengatakan Jangan

Hal ini yang diungkapkan Ani Kuswati. Kepala Sekolah TK dan PAUD Aisyiah Purworejo ini mengungkapkan, sebaiknya melarang anak itu dalam batasan wajar saja. "Banyak orangtua, dengan niat melindungi anak tapi justru membuat mereka tidak kreatif," tuturnya kepada brilio.net. Misalnya, banyak orangtua yang melarang anak untuk bermain di luar karena takut kotor dll. Selama masih dalam batasan wajar, biarkan anak mengembangkan kreativitas kanak-kanak mereka. 
2. Membanding-bandingkan Anak
Hal ini yang diungkap Dwi Puji Rahayu, wanita yang kini bekerja di salah satu bank swasta ini mengaku pernah sebal pada orangtuanya karena sering dibanding-bandingkan dengan kakaknya. "Mungkin niatnya biar saya jadi lebih termotivasi, tapi seringnya saya justru merasa tidak dihargai. Masalahnya, saya punya minat dan bakat yang berbeda dengan saudara saya. Sering, satu ukuran jadi pembanding, ini kan tidak fair," ungkapnya kepada brilio.net. Setiap anak punya bakat dan minat masing-masing, orangtua memang harus lebih berhati-hati dalam menilai potensi anak. 

3. Menumbuhkan Rasa Takut Pada Anak


Kamu mungkin pernah mengalami, pas kamu nangis atau adikmu nangis terus orangtuamu menyuruh diam dengan menakut-nakuti hantu atau yang lain? Hal ini yang menyebabkan hantu menjadi momok yang sangat ditakutkan oleh anak-anak bahkan sampai dewasa. 

 
4. Tanpa Sadar Mengajarkan Kekerasan

Mungkin orangtua mengira anak-anak belum bisa merekam ingatan dengan baik sehingga sering lalai berkelahi di depan anak-anaknya. Padahal, anak-anak akan merekamnya dan mengingatnya. Seperti yang dituturkan Yuda, siswa SMA di Cikarang ini mengaku selalu ingat perkelahian orangtuanya ketika ia masih kecil. 


"Orangtuaku ketika aku gede justru banyak memanjakan. Tapi, dulu mereka sangat sering berantem, mungkin karena kondisi ekonomi kami buruk waktu aku masih kecil ya. Mungkin itu yang membuat aku jadi galak ke adik-adikku,"
 
5. Terlalu Memanjakan Anak



Memenuhi permintaan anak itu tidak salah. Setiap orangtua pasti ingin membahagiakan anaknya. Menjadi keliru adalah ketika berlebihan, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang sombong dan boros.

"Memberikan yang terbaik untuk anak itu perlu, tapi selalu memberikan barang-barang dan hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu mereka butuhkan itu tidak baik. Hal ini bisa membuat mereka jadi boros dan sombong. Meski tidak selalu karena hal tersebut ya, tapi bisa jadi salah satu faktor penyebab," kembali ungkap Ani Kuswati.


6. Terlalu Keras dan Kaku


Komunikasi dalam keluarga itu sangat dibutuhkan. Begitu juga antara orangtua dan anak, komunikasi yang baik akan menumbuhkan hubungan yang baik. Orangtua yang terlalu kaku akan membuat anak menjadi susah untuk mengungkapkan perasaan mereka. Anak jadi terbiasa untuk memendam perasaan, hal ini akan terbawa hingga anak dewasa. Biasakan komunikasi dengan baik pada anak ya parents.


7. Hanya Fokus Pada Kebutuhan Jasmani Anak
Anak bukan cuma butuh baju bagus, sekolah yang bagus, dan rumah yang bagus. Anak juga butuh orang-orang yang mendengarkannya dengan baik dan mengajari mereka bersikap yang baik. Terkadang, tanpa sadar orangtua terlalu sibuk hingga mengabaikan kebutuhan anak untuk diperhatikan. Berusaha untuk menyeimbangkan kebutuhan anak adalah solusi. Semangat ya parents!
 
 
Kartika Sari - AP201
https://www.brilio.net/news/7-kesalahan-mendidik-anak-yang-sering-tidak-disadari-orangtua-catet-1511207.html